Laporan Membaca Buku 2
Biografi Presiden Soeharto

Nama Lengkap` : Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto
Lahir : Kemusuk, Yogyakarta, 8 Juni 1921
Wafat : Jakarta, 27 Januari 2008
Orangtua : Kertosudiro (ayah), Sukirah (ibu)
Istri : Tien Soeharto
Agama : Islam
Soeharto
Perjalanan Hidup dan
Kekuasaan Soeharto
Jenderal Besar Tni (Purn.) H. M. Soeharto dipanggil akrab Pak Harto, adalah sosok nama besar yang memimpin Republik
Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan kepemimpinan luar biasa yang harus
diakui oleh teman dan lawan politiknya (senang atau tidak). Ia menggerakkan
pembangunan dengan strategi Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan
pemerataan). Bahkan sempat mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan
menggapai swasembada pangan (1985).
Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. ayahnya bernama
Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan
sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah saat berusia 8 tahun, tetapi sering pindah. Semula
disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes,
lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul.
Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan
di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri
tani.
Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara,
Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5
Oktober 1945. Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang
anak pegawai Mangkunegaran.
Pernikahan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan
tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah
24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri.
Setelah istrinya meninggal. Beliau tidak segera mencari pengganti
isterinya. Kesepiannya seperti teratasi atas dorongan pengabdian kepada bangsa
dan negaranya. Ia menghabiskan waktu dalam mengemban tugas beratnya sebagai
presiden. Apalagi beberapa pembantunya memberinya laporan dan harapan yang
mendorongnya untuk tetap bertahan sebagai presiden. Bahkan, bersama pembantunya
(menterinya) BJ Habibie, ia bisa berjam-jam berbicara. Tak jarang para staf harus menyediakan mie
instan jika menunggui pertemuan mereka itu.
Tanggal 1 Oktober 1965, meletus
G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan
sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal
Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan
keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi
Bung Karno.
Karena situasi politik yang
memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967,
menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI
Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam
kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.
Setelah berselang beberapa bulan, tepatnya tanggal 20 Januari 1998, tiga
pimpinan Keluarga Golkar (Harmoko), jalur ABRI (Feisal Tanjung) dan jalur
birokrasi (Yogie SM), datang ke Bina Graha menyampaikan hasil pengecekan ulang
keinginan rakyat dalam pencalonan HM Soeharto sebagai Presiden RI.
Saat itu mereka melaporkan kepada Pak Harto. “Bahwa ternyata rakyat memang
hanya mempunyai satu calon Presiden RI untuk periode 1998-2003 yaitu HM
Soeharto,” kata Harmoko mengumumkan kepada pers usai melapor kepada Pak Harto.
“Mayoritas rakyat Indonesia memang tetap menghendaki Bapak Haji Muhammad
Soeharto untuk dicalonkan sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003,” tutur
Harmoko yang didampingi M Yogie SM dan Jenderal TNI Feisal Tanjung ketika itu.
Kepercayaan rakyat ini tidak membuat Soeharto bersikap ‘tinggi glanggang colong
playu.’ Itu istilah Pak Harto yang artinya tidak meninggalkan tanggung jawab
dan mengelak dari kepercayaan rakyat tersebut demi kepentingan negara dan
bangsa tegas Harmoko.
Ternyata itulah awal sebuah tragedi
pembusukan dan pengkhianatan dilakukannya. Soeharto memang terpilih kembali menjadi
Presiden periode 1998-2003 pada Sidang Umum MPR, 1-11 Maret 1998. Didampingi BJ
Habibie sebagai wakil presiden.
Namun, komponen mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat terus
melancarkan demonstrasi meminta Presiden Soeharto dan Wapres BJ Habibie turun
serta Golkar dibubarkan. Saat itu, Pak Harto masih terlihat yakin bahwa
demonstrasi itu akan surut dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Maka pada
awal Mei 1998, ia berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri KTT Nonblok. Saat
berangkat, di bandara Halim Perdanakusuma, ia dilepas Wakil Presiden BJ Habibie.
Sepeninggal Soeharto, dalam beberapa hari kemudian, suasana Jakarta semakin
mencekam. Selain akibat demonstrasi mahasiswa makin marak, juga tersiar isu
terjadi sesuatu misteri dalam tubuh ABRI. Misteri itu diwarnai arah
pengelompokan dalam tubuh militer itu. Selain banyak aktivis pro demikrasi
‘hilang’ entah kemana, juga diisukan ribuan anggota militer ‘menghilang’ dari kesatuannya
memembawa persenjataan lengkap dan amunisi cadangan.
Suasana semakin mencekam, pada 12 Mei 1998, akibat terjadinya penembakan
mahasiswa di kampus Universitas Trisakti, yang kemudian dikenal sebagai Tragedi
Trisakti. 4 orang mahasiswa tewas. Mahasiswa makin ‘marah’. Hampir di seluruh
kampus terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian mulai keluar dari kampusnya.
Bersamaan dengan itu, terjadi pembakaran mobil di sekitar parkir dekat
Universitas Trisakti.
Bahkan, 13 Mei 1998, mahasiswa seperti dipancing untuk keluar dari
kampusnya. Situasi di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta justeru mengundang
tanda tanya.
14 Mei 1998, terjadilah bencana di
Jakarta. Warga keturunan Cina menjadi sasaran. Pertokoan dan pusat-pusat
perbelanjaan dibakar. Saat itu, Jakarta seperti tak punya petugas keamanan.
Sementara para petinggi ABRI berada di Malang. Di lapangan sangat terasa ada
provokator yang menggerakkan.
Dalam kondisi itu, rupanya mahasiswa
sangat jeli. Tampaknya, mereka menghindari dijadikan kambing hitamatau adu
domba . Karena hari itu dan besoknya, tidak ada demonstrasi mahasiswa yang
keluar dari kampusnya. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sebelumnya tidak
biasa ikut demonstrasi, memilih tidak pulang dari kampus daripada terjebak di
jalan yang penuh kerumunan.
Situasi ini memaksa Soeharto pulang lebih cepat dari jadual dari Mesir.
Sebelum pulang, beredar isu bahwa ia akan dihadang oleh mahasiswa.
Harmoko, yang menjabat Ketua MPR dan pimpinan MPR lainnya menampung desakan
mahasiswa yang meminta Pak Harto turun. Di hadapan para mahasiswa itu, Harmoko
menyatakan bahwa pimpinan MPR setuju dengan desakan mahasiswa untuk meminta Pak
Harto mundur.
Pernyataan Harmoko ini kemudian dijelaskan (dibantah) Pangab Jenderal
Wiranto sebagai bukan pernyataan institusi tapi lebih merupakan pernyataan
pribadi.
HM Soeharto tentu
dengan cermat terus mengikuti perkembangan itu. Sampai sore tanggal 20 Mei
1998, tampaknya ia masih yakin akan bisa mengatasi keadaan secara damai dengan
membentuk Komite Reformasi dan merombak kabinet menjadi Kabinet Reformasi.
Rupanya inilah detik-detik terakhir ia menjabat presiden. Hari itu, Rabu 20
Mei 1998 sekitar pukul 19:30, Pak Harto menerima Mantan Wakil Presiden
Sudharmono di kediaman Jalan Cendana 8 Jakarta. Saat itu, menurut Sudharmono,
Presiden Soeharto menyatakan tetap akan melaksanakan tugas-tugas kepresidenan
dan segera akan mengumumkan pembentukan Komite Reformasi serta mengadakan
perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII.
Sekitar setengah jam berikutnya, pukul 20.00, Wakil Presiden B.J. Habibie menghadap soeharto. Kemudian sekitar pukul 20:30, Saadillah diminta
menemui Presiden Soeharto yang sedang bersama Wakil Presiden B.J. Habibie di
ruang tamu kediaman Jalan Cendana 8 itu. Di hadapan Wakil Presiden BJ Habibie, Presiden Soeharto meminta Saadillah Mursyid, Menteri Sekretaris Negara,
mempersiapkan naskah final: Keputusan Presiden tentang Komite Reformasi dan
Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet Reformasi.
Saat itu, Presiden Soeharto menyatakan akan mengumumkan dan melaksanakan
pelantikannya besok hari, Kamis 21 Mei 1998. Kemudian Wakil Presiden B.J
Habibie pulang. Sementara itu, sebanyak empat belas orang menteri membuat
pernyataan tidak bersedia ikut serta dalam Kabinet Reformasi yang direncanakan
Pak Harto. Mereka itu adalah para menteri yang sebelumnya dibesarkan Pak Harto.
Setelah BJ Habibie pulang itu, Saadillah mohon untuk bisa melanjutkan bertemu dengan Soeharto.
Dalam kesempatan itu, Saadillah Mursyid melaporkan bahwa sejumlah orang-orang
yang direncanakan untuk menjadi anggota Komite Reformasi telah menyatakan
menolak. Saadillah juga melaporkan adanya informasi bahwa empat belas orang
menteri yang direncanakan akan duduk dalam Kabinet Reformasi menyatakan tidak
bersedia ikut serta dalam Kabinet. Setelah itu, Saadillah pulang.
Rabu
20 Mei 1998 itu, HM Soeharto mempersilakan Saadillah duduk di sebelahnya. Kursi
hanya ada satu, di situ HM Soeharto duduk. Lalu Saadillah dipersilahkan
menggeser puff, sebuah tempat duduk empat persegi, agar bisa lebih dekat.
Setelah hening sejenak Soeharto mengatakan: “Segala usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita
lakukan. Tetapi Tuhan rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan
ABRI tidak boleh sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh
karena itu, saya memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden, menurut Pasal 8
Undang-Undang Dasar 1945.“
Saadillah sebagai Menteri Sekretaris Negara, diminta untuk mempersiapkan
empat hal. Pertama, konsep ‘Pernyataan Berhenti dari jabatan Presiden RI’;
Kedua, memberitahu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bahwa permintaan pimpinan
DPR untuk bertemu dan melakukan konsultasi dengan Presiden akan dilaksanakan
hari Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09:00 di ruang Jepara Istana Merdeka; Ketiga,
memberitahu Wakil Presiden BJ Habibie agar hadir di Istana Merdeka hari Kamis
tanggal 21 Mei 1998 pukul 09:00 dan agar siap untuk mengucapkan Sumpah Jabatan
Presiden di hadapan Ketua Mahkamah Agung; Keempat, memohon kehadiran Ketua
Mahkamah Agung di Istana Merdeka hari Kamis 21 Mei 1998 pukul 09:00.
Konsep disusun secara bersama-sama, sebagaimana layaknya suatu pekerjaan
staf. Bukan hasil kerja
orang perorangan. Setelah konsep diteliti dan dikoreksi beberapa kali, pada
pukul 03:00 menjelang subuh tanggal 21 Mei 1998 naskah Pernyataan telah siap
untuk diajukan kepada Presiden.
Naskah diajukan melalui prosedur yang sudah baku pada Sekretariat Negara.
Konsep yang sudah diketik rapi diserahkan kepada Ajudan. Ajudan menaruh naskah itu
di meja kerja Presiden.
Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara Istana
Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden Soeharto menyampaikan
pidato Pernyataan Berhenti
Sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto menyatakan: “Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi
dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. “Dengan memperhatikan keadaan di
atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas
pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan
memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan terhitung sejak saya bacakan
pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.“
Selepas itu, dengan ditemani puteri sulungnya. Ketika sampai di kediaman,
sebelum duduk di ruang keluarga, Pak Harto mengangkat kedua belah tangan sambil
mengucap: “Allahu Akbar. Lepas sudah beban yang terpikul di pundakku selama
berpuluh-puluh tahun.“ Kemudian, putera-puteri dan keluarga menyalaminya.
Setelah itu, Pak Harto pun menjadi bulan-bulanan caci-maki dan hujatan. Bukan
hanya dari orang-orang yang sebelumnya tidak sejalan dengan Pak Harto,
melainkan lebih lagi dari para menteri dan tokoh-tokoh Golkar yang selama ini
tak sungkan-sungkan melakukan berbagai cara untuk bisa mendekat.
Selama 24 hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan,
mantan presiden Soeharto akhirnya meninggal dunia pada Minggu, 27 Januari 2006.
Soeharto meninggal pada pukul 13.10 siang dalam usia 87 tahun.
Keunggulan : kisah ini menambahkan wawasan tentang pejalanan
hidup soeharto selama mejabat menjadi presiden RI.
Kelemahan : kisah ini tidak terlalu banyak
menceritakan tentang keluarganya.
Komentar
Posting Komentar