Laporan Membaca 1




Judul          : Sengsara Membawa Nikmat
Pengarang  : St. Sati
Penerbit      : Balai Pustaka
Tebal          :  206  Halaman

A.Ringkasan
           Waktu asar sudah tiba. Amat cerah hari petang itu. Langit tidak berawan, hening jernih sangat bagusnya. Matahari bersinar dengan terang, suatu pun tak ada yang mengalanginya. Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya. Tetapi lembah dan tempat kerendahan buram cahayanya. Demikianlah pula sebuah kampung yang terletak pada sebuah lembah, tidak jauh dari bukittinggi.
            Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arah ke pasar di kampungitu. Midun ialah seorang muda yang baru berumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua di surau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itu menunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati. Parasnya baik, badannya kuat,bagus, dan sehat. Tiada lama berjalan mereka keduapun sampailah ke pasar.Didapatinya orang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagi akan dimulai.Adapun  pasar dikampung itu terletak di tepi jalan besar. Pada seberang jalan di muka pasar, berderat beberapa buah rumah dan lepau nasi.
             Memang midun seorang mudah yang sangat digemari orang di kampungnya.Budi pekertinya amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa sajapun.Tertawanya manis, sedap didengar,tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati,penyayang dan pengasih , jarang orang yang sebaik hatinya, Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalam segala hal.Hati tetap dan kemauannya keras: apa yang dimaksudnya jika tidak sampai , belum ia bersenang hati. Adalah pula padanya suatu sifat yang baik,yakni barang siapa yang berdekatan atau bercampur dengan dia, tak dapat tiada senang hatinya, hilang sedih hati olehnya. Karena itu, tua muda,kecil besar di kampung itu kasih dan sayang kepada midun.Hampir semua orang di bibir banyak,dan budi pekertinya diambil orang jadi teladan.

Mendengar perkataan Maun, orang yang duduk berkelompok –kelompok itu berdiri. Setelah Kacak samapai ke pasar, semuanya datang bersalam kepadanya.sungguhpun Kacak masih berumur 21 tahun lebih, tetapi segala orang di pasar itu,baik tua ataupun muda,sangat hormat kepadanya dan dengan sopan bersalam dengan dia.Tetapi mereka bersalam tidak sebagai kepada Midun, melainkan kebalikannya.Mereka bersalam tidak sebagai kepada Midun,melainkan kebalikannya.Mereka itu semuanya seolah-olah terpaksa,sebab ada yang ditakutkannya.

        Perkataan jenang yang demikian itu sudah cukup untuk menjadi sindiran kepada pemain, agar segera memperbaiki kesalahannya. Kacak kemalu-maluan, tetapi apa hendak dikatakan,karena dimedan itu jenang lebih berkuasa daripada dia. Dengan muka merah dan menggigit bibir karena malu dapat teguran jenang,Kacak melihat ke kiri-ke kanan , ke muka dan belakanga, lalu memperbaiki tegaknya.segala pemain yang lain insaf pula akan arti sindiran itu, lalu mereka memperhatikan betul tidaknya tempat ia berdiri.syukurlah hanya kacak seorang yang tidak sempurna tegaknya dimedan itu.

        Dalam pada saya bercerita itu, tiba-tiba kedengarannya bunyi sebagai barang jatuh dua kali.Bunyi itu kedengarannya tidak jauh daripada kami. Kawan-kawan saya terkejut dan kecut hatinya.Pada persangkaa mereka , tak dapat tiada harimau yang melompat. Mereka itu duduk berdesak-desak, masing-masing hendak ke tengah akan melindungi diri.berimpit-impit tidak bertentu lagu. Kelihatan tak ada ubahnya sebagai onggokan kecil.Seorang pun tak ada yang berani mengeluarkan perkataan,karena lidahnya sudah kaku dan mulut terkatup.Saya pun sudah tersepit di tengah-tengah, hampir tidak dapat bernafas lagi. Dengan segera saya tearangkan,bahwa hal itu tak usah ditakutkan sebelum diperiksa dahulu, lalu saya pun pergilah ke arah bunyi itu datang, akan melihat apa yang menyebabkan bunyi itu.
          Segala orang yang mendengarkan cerita itu jangankan diam, semakin jadi ketawanya. Amat geli hati orang mendengar cerita Midun itu. Kacak mendengar orang makin menyala-nyala, rasakan hendak ditelannya Midun ketika itu. Pada pikirannya, jangankan Midun mendiamkan tertawa orang, tetapi seakan-akan mencari perkataan akan menggelikkan hati, supaya orang makin jadi tertawa. Tetapi apa hendak dikatakan, ia terpaksa berjalan dari tempat itu karena malu. Akan berkelahi sekali lagi, tentu tidak dibiarkan orang. Dengan pemandangan yang amat tajam kepada Midun, kacak pun pulanglah kerumahnya.
          Tidak lama antaranya, perkelahian Kacak dengan Midun sudah tersiar ke seluruh kampung. Di lepau-lepau nasi dan pada tiap-tiap rumah. Orang memperkatakan perkelahian itu saja. Percakapan itu banyak pula yang dilebih-lebih orang. Yang sejengkal sudah menjadi sehasta. Dari seorang semakin bertambah-tambah jua. Memang sebenarnyalah pikiran orang yang demikian itu. Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak kacak menjadi Tuanku Laras, Midun dan kacak sudah bermusuhan. Ketika mereka masih kecil-kecil, seringkali terjadi pertengkaran, karena kelaianan kemauan. Hampir setiap bulan ada-ada saja yang menyebabkan hingga mereka terpaksa berkelahi, mengadu kekuatan masing-masing. Ketika itu tampaklah kepada pak Midun, marah Hajji Abbas sudah agak surut. Pak Midun berkata sambil bersenda gurau “selalu saya diusik anak Haji, supaya ia dapat menambah kepandaiannya dengan Haji. Beberapa kali saya disuruhnya mengatakan kepada haji, karena ia ingin benar hendak mendapat sesuatu tentang ilmu silat dari pada Haji. Tetapi tiap-tiap permintaannya itu saya sampaikan, selalu saja Haji tolak.
           Matahari telah turun menjelang tirai peraduan di balik bumi, meninggalkan cahaya yang merah kuning laksana emas baru disepuh di pinggir langit di pihak Barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarangnya. Dengan tergesa-gesa sambil berkotek memanggil anak, masuklah ayamnya ke dalam kandang, karena hari telah samar muka. Cengkerik mulai berbunyi bersahut-sahutan, menyatakan bahwa hari sudah senjakala. Ketika itu sunyi senyap, seorang pun tak ada kelihatan orang di jalan. Di jembatan pada sebuah kampung, kelihatan tiga orang duduk berjuntai. Mereka duduk seakan-akan ada suatu rahasia yang di mufakatkannya, yang tidak boleh sedikit juga di dengar orang lain, sambil melihat kesana kemari, kalau- kalau  ada orang lalu lintas.
            Dua pekan lagi akan diadakan pacuan kuda di Bukittinggi. Tetapi sekali ini pacuan kuda itu akan diramaikan dengan pasar malam lebih dahulu. Kabar pasar malam di Bukittinggi itu sudah tersiar dimana-mana di tanah Minangkabau. Hal itu sudah menjadi buah tutur orang. Dimana-mana orang mempercakapkannya, karena pasar malam baru sekali itu akan diadakan di Bukittinggi. Demikian pula Midun, yang pada masa itu sedang duduk-duduk di surau menanti waktu asar bersama Maun, pasar malam itulah yang selalu diperbincangkan.
            Pada tepi jalan di pasar kampung itu kelihatan lada, ayam, dan lain-lain sebagainya. Dua orang muda memuat barang-barang itu ke dalam pedati. Setelah selesai, Midun dan Maun pun bersalaman dengan ayah bunda masing-masing. Mereka berdua meminta izin, lalu bersiap akan berangkat. Amat berat hati ibu itu melepas anaknya ke Bukittinggi. Amat lain perasaannya takut kala-kalau anaknya dapat bahaya, karena midun dimusuhi orang.
            Midun dan Maun sampai di pintu gerbang itu. Dengan heran mereka melihat keindahannya. Agak ke sebelah dalam sedikit ada sebuah rumah yang amat kukuh, bangun rumah itu tak ubah dengan Balairung sari buatan orang Minangkabau zaman dahulu.
            Pada keesokan harinya pagi-pagi, Midun berangkat ke Bukittinggi. Maka sampailah mereka itu dengan selamat di negeri tumpah darahnya. Midun pergi menghadap Tuan Asisten Residen, akan memberitahukan bahwa ia sudah datang dan memohonkan perlop barang sebulan, karena ia sudah 6 tahun tidak pulang ke negerinya. Permintaannya itu dikabulkan oleh Asisten Residen.
            Adapun di kampung Midun pada hari itu Tuan Kemendur mengadakan rapat besar. Sudah 3 bulan lamanya kampung Midun dengan daerahnya diwakili oleh demang lain memerintah di situ, sebab belum datang gantinya. Rapat hari itu ialah rapat besar, akan menentukan penghulu-penghulu, mana yang harus diberi bersurat dan mana yang tidak.
            Rapat itu disudahi sebab sudah habis. Midun suami istri dan manjau serta mamaknya terus ke rumah familinya. Di jalan di kabarkan Datuk Paduka Raja, bahwa ibu Midun baru sepekan di rumah. Ia pergi ke Bonjol menurutkan Maun bekerja. Sebabnya Maun ke Bonjol karena Maun selalu diganggu penghulu kepala kacak di kampung. Kepulangan ibunya itu hanya karena hari raya saja.
            Baru saja Midun naik ke rumah, sudah tampak kepadanya ibunya, sahabatnya sekarang telah menjadi iparnya duduk di tengah rumah mereka. Mereka itu berlompatan melihat Midun dan Manjau. Tak ubahnya sebagai orang kematian di rumah itu. Mereka itu empat beranak berpeluk-pelukan dan bertangis-tangisan amat sangat. Lebih-lebih Midun dan Maun dua orang sahabat yang sangat akrab dahulu. Tidak insaf, kedua mereka itu lagi, bahasa ia sudah beripar besan. Sama-sama tidak mau melepaskan pelukan masing-masing. Halimah sendiri turut pula menangis melihat pertemuan suaminya itu. Ada setengah jam lamanya, barulah tenang pula di rumah itu. Tidak beberapa lama di antaranya, Midun berkata, “Ini menantu ibu, namanya Halimah. Dan ini cucu ibu, namanya Basri.” Ibu Midun baru insaf akan diri, bahwa beserta Midun ada pula menantu dan cucunya. Halimah segera mendapatkan mertuanya lalu menyembah. Ibu Midun mendekap menantunya itu. Kemudian diambilnya cucunya, dipangku dan diciumnya beberapa kali. Maka Halimah di perkenalkan Midun dengan seisi rumah, dan diterangkannya jalan apa kepadanya orang itu masing-masing. Ratap tangis mulanya tadi, bertukar dengan girang dan suka.
            Adapun penghulu kepala musuh Datuk Paduka Raja yang sangat bengis dahulu itu, sejak pertemuan di pasar waktu asisten demang baru datang, sudah melarikan diri ntah kemna. Rupanya ia takut dan malu kepada Datuk Paduka Raja, musuhnya dahulu. Dan boleh juga jadi sebab yang lain maka ia melenyapkan diri itu. Hal itu segera diberitahukan Datuk Kemendur. Maka Tuan Kemendur bersama dengan juru tulisnya datang dari Bukittinggi akan memeriksa buku-buku dan keadaan beberapa uang kas di negeri. Sudah diperiksa, kedapatan ada beberapa rupiah uang belasting yang tidak disetornya. Kacak dicari, didakwa menggelapkan uang belasting. Karena terang ia bersalah, maka kacak dihukum 2 tahun dibuang ke Padang.
B. Unsur-Unsur Novel
 1.  Tokoh
a.       Jenang (Menyindir untuk hal kebaikan)
“perkataan jenang yang demikian itu sudah cukup untuk menjadi sindiran kepada pemain, agar segera memperbaiki kesalahannya” hal : 7
b.      Kacak (sombong, iri)
“berapa kepandaianmu? Saya lebih lagi dari engkau”
c.       Kadirun (suka menghibur)
“kadirun itu adalah teman Midun semasa kecil, ia amat pandai membuat orang tertawa”
d.      Midun (penyabar)
“midun sabar saja, sedikitpun tak ada terbayang hati marah pada mukanya.”
 2. Latar
     a. Tempat : Bukittinggi (kampumg Midun), tepi sungai, dan di pasar
     b. Waktu : pagi, siang, sore, dan malam
     c. Suasana : Menegangkan, sedih, dan bahagia
3. Sudut Pandang
    Orang ketiga
    Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang di kampungnya. Budi pekertinya yang amat baik dan tertib sopan santun kepada siapa jua. Tertawanya manis, sedap didengar, tutur katanya lemah lembut. Ia gagah berani lagi baik hati, penyayang dan pengasih.
4. Alur
    Alur maju, menceritakan kisahnya dari awal sampai akhir.
5. Gaya Bahasa
    Menggunakan majas majas personifikasi, yaitu “ Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya.”
C. Nilai-Nilai
a. Nilai Agama : Waktu asar sudah tiba, Midun segera melaksanakan sholat asar
b. Nilai Sosial : Tulus dan ikhas saat membantu orang yang sedang dalam kesusahan
c. Nilai Moral : Midun berkelahi dengan Kacak di pasar
D. Kelebihan dan Kelemahan Novel
    Kelemahan novel : Novel yang berjudul “Sengsara Memabawa Nikmat” ini membuat pembaca bingung dengan kata yang kurang mengerti seperti di hal : 11 “dalam pada saya bercerita itu”
    Kelebihan novel : Novel ini memberikan sebuah kisah yang sangat menarik untuk dibaca.         



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel Badai Sampai Sore

Teks Sejarah Tuanku Imam Bonjol

Autobiografi