Laporan Membaca Buku 3
Judul : Salah
Asuhan
Pengarang : Abdoel Moeis
Halaman isi : 262
A.
Rinkasan
cerita
Tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon ketampang
sekitarnya, masih sunyi. Cahaya matahari yang diteduhkan oleh daun-daun di
tempat bermain itu, masih keras, karena dewasa itu baru pukul tengah lima
petang hati.
Setiap petang berkumpulah beberapa orang penduduk solok yang
‘ternama’ ke tempat itu buat bermain tennis. Tua-muda gadis dan nyonya, bangsa
barat dan bangsa timur sekalinnya bercampur gallah di sana, buat memuaskan
hati, melakukan permainan sport yang makin digemari orang disegenap negeri.
Seorang pun belum ada di tempat permainan trnnis, karena kedua anak
muda, yang duduk berlindung di bawah pohon yang rimbun menghadap meja teh dekat
permainan itu, belum boleh dikatakan hendak bermain, sebab meski pun mereka
masing-masing memakai pakaian tennis, sedang dua buah raket tersandar di kaki
kursi.
“ya, han!” kata seseorang, yaitu seorang gadis barat yang amat
cantik parasnya. Sambil berkata-kata dituangkannnya air teh ke dalam dua
cangkir yang tersedia. “apalah akan persangkaan orang, bila setiap hari aku
datang terlebih dahulu ke tempat bermain ini, sedang datangku itu pun
senantiasa ke rumahmu dahulu.
“segala orang harus menerima baik apa yang hendak dilakukan oleh
sesama manusia atas dirinya sendiri,” sahut anak muda, yang dinamai han oleh si
gadis tadi.
“hanafi, hanafi! Hari ini fillmu
sangat pula susahnya. Kalau sifat dan hatimu kurang kukenal, nisjaya aku
akan boleh timbul salah persangkaanku pada dirimu tapi dari kecil kita bercapur, dari semasa di
bangku sekolah rendah. Jadi fiil tabiatmu sudah jelas benar bagiku. Tenagkanlah
dulu daramu, dengarkan baik-baik saja.
Tuan du bussee bayah coriie, seorang prancis yang sudanh pensiun
dari jabatan arsitek. Di hari tuannya ia sudah hidup menysihkan diri sebagai
orang bertapa. Semati nyonya, yaitu seorang perempuan bumi putra di solok, yang
sudah dikawininya.
Tuan du bussee mencari kesenangannya dengan berburu, meskipun
umurnya sudah enam puluh tahun, tapi tidak ada hutan blukar yang tidak
dimasukinya. Tak ada gunung tinggi yang tidak terdaki, ataupun jurang alam yang
tidak terturuni olehnya.
Setelah corrie tamat elajar di sekolah rendah, maka ayahnya
mengirim ia ke betawi, ke itemat salemba, sebab ia tak suka ke palang dalam
menyekolahkan anaknya.
Tapi corrie meski sekolah yang sepatut-patutnya. Pusaka yang
ditinggalnya untuk anaknya tidaklah berarti, haruslah anak itu memperolah ilmu
dunia yang stinggi-tingginya buat bekal hidupnya.
Dengan demikian setelah berumur delapan tahu, barulah corrie tahu
bangku sekolah.
Ketika ceria ini dimuali, corrie pulang liburan pula, setelah tiga
tahun lamanya bersekoalh di HBS. Sebetulnya corrie sudah hendak memperhentikan
sekolah hingga itu saja, tapi ayahnya meminta dengan keras, supaya menamatkan
sampai lima tahun.
Corrie yang baru sja berumur sembilan tahun sudahmeras amenjadi
nona besar. Apalagi kecantikan parasnya sudah menyebabkan ia dikelilinggi
banyak laki-laki, tua dan muda, yang berkenalan dengan dia, dengan rupa ucapan
pujian dan sanjungan hinggga rusaklah perasaan gadis yang biasa dalam pingitan
di asrama itu.
Sudah tahukah corrie akan arti percintaan? entahlah, ia sendiripun
belun insaf.
“pa, apakah halangan perkawinan orang barat dengan dengan orang
timur?”
“kawin campuran itu sesungguhnya banyak benar rintangannya! Karena
masing-masing bangsa dihinggapu oleh suatu –enyakit ‘kesombongan bangsa’.
“hal papa dan mama sungguh lain.
“perbedaan itu sudah ada, corrie dan sungguh besar sekali.
Dari kecil hanafi sudah di sekolahkan di betawi, yaitu tidak dinantika tamatnya besekolah belanda di solok.
Melainkan dipindahkan ke ibu kota itu, karena kata ibunya ia tidak hendak ke
palangmenyekolahkan anak tunggal yang kehilangan itu.
Tamat sekolah rendah,berpindah ia ke HBS, yang dijalaninya sampai
tiga tahun.
Pada suatu hari, sedang ia duduk berbaring di atas sebua kursi
malas di dalam kebun sedang air mukanya jernih.
“hanafi,” katannya,”sudah lama benar ibu hendak berhandai-handai
dengan engkau, tapi kulihat engkau ada dalam kesempitan saja.
“apa pula yang tersa di hati ibu, yang terkalang di mata,
ceritakanlah
Sebenarnya dari dahulu maksud mereka hendak mengakat engkau menjadi
penghul...
“ha, ha, ha!bu! benarkah pendengaranku? Menjadi penghulu?
“hanafi, hanafi! Sudah ada di dalam kira-kira ibu, bahwa engkau
akan mencemooh maksud orang tua yang semulia itu.
Semalam-malaman corrie tidak merasa tidur nyeyak. Setiap saat ia
bertanya dalam hatinya,”cintakah ia pada hanafi?”
Dalam persangkaan corrie, pergaulannya denga hanafi selama ini
hanya dibangunkan ats rasa persahabatan dan persaudaraan saja. Memang sayanglah
ia pada hanafi, tapi sebagai sayang kepada saudara.
Tapi nyatalah persaaan dari kedua belah pihak sudah berubah. Hanafi
sudah cinta padanya, bukan lagi sebagai seorang adiknya, melaikan sebagai
seorang perempuan yang dikehendakinya buat menjadi istrinya.. perasaan corrie
pada hanafi sudah berubah pula, tapi cintakah ia pada hanafi? Itulah suatu
pertanyaan besar yang sudah membingungkan
hatinya.
Dari pukul emapt corrie sudah berhias dan mamakai di muka cermin
besar. Mula-mula dipakainnya baju biru laut, yaitu warna yang disukainya.
“pa corriee berangkat, pa!”
“dag corrie , bersuka-sukalah anakku!”
“ terima kasih , pa, dag!”
“ hanafi, duduklah!” katannya
“o, merpati!” kata hanafi
“hai hanafi,” kata corrie
Sesampingnya di rumah corrie mendapati beberapa helai surat dari
kawan-kawannya. Di antaranya ada dua pula dua helai “surat lamaran”
Tapi corrie bermaksud hendak membalas surat-surat itu, hendak
diterangkannya bahwa ia sekali-kali tidak bermaksud hendak bersuami, karena
hidup bersuami-istri itu tidaklah menarik hatinya.
Bahwa sesungguhnya corrie sudah berasa geli akan bersinggungan
dengan laki-laki.
Semalam-malaman itu hanafi tidak tidur sekejap juga. Rindu dan cinta, kepada corrie
sekonyong-konyong sudah berbalik menjadi beban dan benci. Mengertilah ia, bahwa
gadis itu sudah mempermainkannya.
Hanafi meningat-ingat lagi akan isi surat itu.
Nyatalah bahwa corrie memberatkan segala kesalahanpada dirinya.
Apakah kesalahannya? Menipukah ia padaa coriie? Ataukah memaksa? Tidak, mereka
bergaul sebagai dua orang sahabat, ia bujang,corrie gadis dan ia sudah asyik
berahi pada gadis itu. Hal itu mustahil tidak diketahui oleh corrie.
Pada suatu pagi hanafi sudah ke luar dari temapat tidurnya.
Dokterpun sudah pernah tidak datang lagi.
Dukun pun sudah bersuka cita. Ramuan sudah cukup masuknya.
Singkat cerita. Dua tahun sudah berjalan, setelah jadi perundingan
hanafi dengan ibunya tentang beristri itu sebelum ia membenarkan kata ibunya,
ia pun sudah dinikahkan dengan rapiah
Di dalam peralatan itu hampir-hampir pernikahan dibatalkan karena
timbul perselisihannanatara pihak kaum perempuan dengan kaum laki-laki.
“oh! Liatlah, liatlah! Babu baru!’ demikian suzeberseru, sambil
bertepuk-tepuk
“nyonya sedang berhias!” kata nyonya guru pula.
“inilah rupanyarumah tanggaku!”
Sekiranya ia tidak akan mengambil anaknya yang menangis secara itu,
tentu diupah atau dipaksa pun ia tak maumenunjukan muka kepada suaminya.
Kemarahan hanafi kepada anaknya. Sambil memberantakan anak itu ke
tangan ibunya.
Rapiah tunduk, tidak menyahut, hanya air matanya saja yang
berhanburan. Syafei, dalam dukungan ibunya yang tadinya menangis keras, lalu
mengganti tangisannya dengan beriba-iba.
“hanafi! Anakku, tahulah engkau apa hukuman anak yang durhaka padaa
inunya?”
Au!Au...!
Hanafi terkejut, menarik tangannya yang tergantung di kursi malas
dengan secepat-cepatnya.
Semalam-malaman itu ibu hanafi tidak tidur sekejaf juga kerjanya
rintang mengemas barang-barang pakaian dan segala sesuatu yang akan dibawa
anaknya berlayar saja.
Perceraian hanafi dengan keluarganya hanyalah sederhana saja. I
atak suka diantar sampai ke padang. Berlayar buat tiga pekan saja, ke stasiun
saja antarkan aku, begitu katanya
Di dalam dua tahun yang sudah terlampau itu, di atas diri nona
corrie pun telah terjadi perubahan. Belum setahun ia meninggalkan ayahnya untuk
meneruskan sekoalhnya di betawi., orang itupun sudah meninggal dunia.
“hanafi! Yang sudah tinggal sudah. Sukaklah aku mengaku salah.
Buaknlah kita bisa hidup bergaul secara sahabat kembali?”.
“ya, corrie!” katannya dengan sedih
“ya, hanafi perjodohan dua orang manusia itu bukanlah dalam
gengaman kita.”
Sudah seperempat jam lamanya hanafi menantikan corrie di pintu air
tidak lama datang lh yang dinanti-nati dari pintu air
Di rumah hanafi di solok, sunyi senyap keadaannya. Seorang pun di
antara segala sahabat hanafi tak datang ke rumahnya, karena yang selama ini
yang di cari adalah hanafi.
Akhirnya sampailah mereka kerumah.
“bukalah piah, tolong bacakan! Buruk atau baiknya hendaknya sama
sama kita dengar.”
Setelah membaca surat itu rapiah tidak kuat menahan air mata yang
sudah tergenang pula, lalu dibiarkannya mencucr sepuas-puasnya.
Tiga bulan sudah terlampau setelah corrie merayakan hari
kelahirannya.
Pada suatu hari hanafi datang ke rumah corrie,
“ada kabar apa, hanafi?”
“kabar penting cor!”
Di surabaya mereka menumpang di suatu persion kecil, mengaku nama
tuan dan nona han, yaitu sebagai dua orang saudara, mereka pun sekali-kali
tidak menunjukkan laku orang bertunangan, melainkan semata-mata sebagai dua
orang adik kakak saja.
Dua tahun sudah terlampau . bagi keluarga di sumatra barat hanafi
sudah di pandang keluar dari kaum. Ia sudah menjadi’ olanda’ sedang sepucuk
surat tak ada yang datang
“kemananya ?” demikian sopir mobil bertanya.
“putar-putar dahulu sejam,” sahut corrie.
“nah!” kata corrie dalam hatinya. “di sinilah aku hendak mencari
tempat.”
Fajar menyingsing di sebelah
timur, alamat matahari akan naik. Sudah
hampir satu jam lamanya rapiah duduk termenung, di muka jendela kamarnya,
sambil memandang ke bukit barisan yang berupa seolah-olah disapu dengan air
emaspada ketika itu.
Dengan susah payah hanafi mendapat tumpangan di rumah suatu famili bangsa belanda, kawannya
sekerja.
Semalam-malaman itu hanfi tidak memicing-micingkan mata sekejab
juga. Makin lama makin insaflah ia akan dirinya.
“hanafi! Hanafi! Anakku!
Apakah yang sudah terjadi atas dirimu?” demekian ibunya sudah menjerit
“tidak berarti bu... sakit perut. Tapi... sudah mulai membaik”
“enkau muntah-muntah darah, hanafi! Oh, anakku siapakah kirannya
yang khianat memberi makan berbisa?
“sudah penyakitku... serupa itu, bu.”
Air itu harus diminum hanafi, buat menolak segala bahaya dengan
sekali teguk. Waktu hendak pulang, dokter sudah membawa ibu hanafi berunding.
Dengan bimbang hati mendekatlah ibunya ke kepalanya, lalu hanafi
berkata dengan suara lemah-lembut,” ibu... ampuni ... akan dosa ... ku ...
syafei plihara ... baik-baik. Jangan ... diturunkannya ... jejakku ...”
“ya, anakku! Sudah lama engkau aku ampuni. Hal anakmu janganlah
engaku risaukan. Mengucaplah, hanafi. Kenanglah nama tuhan dan rasul. Supaya
lurus jalanmu.”
Hanafi memandang sedih ibunya, berkata “lailaha illallah. Muhammad
dar rasullah!”
Dalam berjabat tangan dengan ibunya, melayanglah jiwa hanafi.
B.
Unsur-unsur
novel
1.
Tokoh
dan watak
a.
Hanafi
: sombong dan keras
kepala.” sebenarnya hanafi amat keras kepala, jika kehendaknya dibantah di
tidak suka”(hal 155)
b.
Corrie :
baik dan ramah.”o, sigaret tante boleh habiskan satu dos. Sudah tentu enak ayo
coba”( hal 164)
2.
Rapiah
:
sabar dan setia.” rapiah tunduk tidak menyahut”(hal 83)
3.
.Latar
a.
Tempat
: rumah, solok
b.
Suasana : sedih dan menegangkan
c.
Waktu : pagi, siang dan malam
4.
Sudut
pandang
a.
aku : orang pertama sebagai pelaku
sampingan.”
b.
nama :
orang ketiga sebagai pelaku serba tau.
5.
Alur :
maju
6.
Gaya
bahasa : menggunakan majas perumpamaan,
asosiasi,litotes dan metafora.
C.
Nilai-nilai
a.
Nilai
agama :”menucaplah, nafi.
Kenanglah nama tuhan dan rasul, supaya lurus jalanmu.”(hal 261)
b.
Nilai
sosial : -
c.
Nilai
moral : “hanafi! anakku,
taulah engkau apa hukuman ank yang durhaka pada ibunya.”(hal 89 )
D.
Keunggulan
dan Kelemahan
a.
Keunggulan
: novel ini menceritakan seorang
pemuda yang durhaka kepada ibunya.
b.
Kelemahan
: banyak menggunakan kata asing
sehingga sulit dipahami.
Komentar
Posting Komentar